Minggu, 17 Agustus 2014

asal usul nama jawa

Artikel ini saya ambil dari PAWONPOT mengenai asal usul jawaAsal Usul Nama Jawa; Catatan yang Terselip
Asal Usul Nama Pulau Jawa ini adalah catatan yang terselip. Dulu dibuat sebagai bahan revisi penerbitan Jawa-Islam-Cina; Politik Jatidiri dalam Jawa Safar Cina Sajadah dan kembali ditemukan saat berusaha membersihkan jerohan kompie ini. Semoga bisa berguna dan kalau perlu, ada baiknya cek ulang referensi yang terlampir di bawah. Sila…

Berikut ini adalah keterangan mengenai asal usul nama Jawa (1):

Claudius Ptolomeus dari Alexandria menulis cerita tentang pulau Jawa yang disebut Jabadiur. Ahli bumi bangsa Yunani itu menulis bahwa pulau itu sangat kaya, subur dan banyak mengandung emas. Orang-orang Hindu dikatakan sudah menguasai pulau yang juga disebut Jawa Dwipa itu—selain Sumatera—dan bahkan sudah memerintah disana. Selain itu dikatakan bahwa di barat pulau itu terdapat Argue atau kota perak. Cerita ini dibuat Claudius Ptolomeus pada abad ke-2 M.

Fa Hien, seorang pengembara Cina yang pernah terdampar di Nusantara selama lima bulan (antara Desember 412-Mei 413) karena terserang badai mengatakan bahwa ia sempat tinggal disebuah pulau yang penduduknya belum mengenal Budha. Fa Hien menyebut pulau itu Ye-P’o-ti. Di duga Ye-P’o-ti adalah dialek Cina untuk Jawa Dwipa (2).

Gunawarman, Pangeran Kasmir yang sempat mengunjungi Nusantara pada tahun 420 M menyebut Cho-p’o untuk pulau yang disinggahinya. Walau ditafsir sebagai Jawa tapi sebagian kalangan juga menganggap Cho-p’o adalah sebutan bagi Jawa sekaligus Sumatera (3).

Tahun 123 M, sebuah berita Cina menyebutkan bahwa ada utusan Ye-tiao ke Cina. tidak ada keterangan lebih mengenai hal tersebut. Tetapi Ye-tiao disini ditafsir juga sebagai Jawa (4).

Tahun 1343, Ibn Batuttah sang pengelana Arab menyebut Djawah untuk Sumatera dan Moel atau Moela Djawah untuk Jawa.

Giava, digunakan Marco Polo, pedagang Venisia yang sempat mendatangi India dan Nusantara untuk menyebut Jawa. Tetapi Jawa di sini dibagi menjadi dua, Jawa Kecil untuk menyebut Sumatera dan Jawa Besar untuk menyebut Jawa.

Iauva, kata yang tercantum pada peta yang dibuat bangsa Belanda segera setelah kedatangannya di awal abad 16 (5).

Jaoa, istilah yang diberikan oleh penulis Portugis awal untuk menyebut suku bangsa yang berasal atau menetap di Jawa ataupun keturunan mereka yang menetap di pelabuhan-pelabuhan lain di sepanjang kawasan ini. Dan acuannya sama sekali bukan bahasa (6).

Arjabhata yang lahir pada tahun 476 M menyebut Jawa Koti dalam bukunya, Ilmu Perbintangan. Buku tersebut berisi cerita perjalanan yang dilakukan pada tahun 234 H dan terbit pada tahun 815 M. Dalam buku itu diceritakan adanya Kerajan Hindu di Pulau Zabedj atau Jawa.

Prabu Jayabaya, yang dianggap keturunan ke lima Arjuna, pada tahun pertama kalender Jawa dipercaya telah mendarat di Jawa dan menemukan sejenis padi-padian yang menjadi makanan pokok rakyat Noesa Kendeng. Nama Noesa Kendeng kemudian dirubah menjadi Noesa Jowo atau Nusa Jawa.

Pada kitaran abad 12, Jawa disebut Jawa Dwipa atau Jambu Dwipa oleh orang-orang Hindu-India. Waktu itu nama-nama daerah memang disebut dengan nama tanaman atau buah-buahan yang banyak hidup di wilayah tersebut. Jawa sendiri berasal dari nama sejenis padi-padian, Jawawut – makanan penduduk Jawa waktu itu. Yawadvipa juga disebut dalam epik Ramayana ketika Sugriwa, panglima bangsa wanara atau kera, bermaksud mengirim utusan untuk mencari Shinta ke pulau itu.

Adapun bangsa Arab menyebut Jawa sebagai Jaza’ir al-Jawi atau kepulauan Jawa. Hingga hari ini jemaah haji asal Indonesia sering disebut “orang Jawa” meskipun mereka berasal dari luar Jawa. Dalam bahasa Arab juga dikenal sebutan Samathrah untuk Sumatera, Sholibis untuk Sulawesi dan Sundah untuk menyebut Sunda, dan seluruhnya dikenal dengan istilah kulluh Jawi atau ‘semuanya Jawa’.

Nama Jawa, Jawan, Yawan, Yahwa, Java, Javana, Yavana, dan seterusnya dapat diartikan sebagai putih atau terkait dengan ras-ras berkulit putih (7). Istilah ini berhubungan dengan Ionian di Yunani yang diduga berasal dari Timur Jauh. Kata

Jumat, 15 Agustus 2014

game sniper android

Jadi lah penembak jitu dan bunuh semua musuh musuhmu.
Bidik dengan tepat dan menuju kelevel selanjutnya.
Minat dengan game ini silahkan download disini

Selamat bermain

al liwa dan ar ruya

Panji dan bendera islam
Di dalam bahasa Arab, bendera dinamai dengan liwa (jamaknya adalah alwiyah). Sedangkan panji-panji perang dinamakan dengan rayah. Disebut juga dengan al-‘alam (1).
Rayah adalah panji-panji yang diserahkan kepada pemimpin peperangan, dimana seluruh pasukan berperang di bawah naungannya. Sedangkan liwa adalah bendera yang menunjukan posisi pemimpin pasukan, dan ia akan dibawa mengikuti posisi pemimpin pasukan.

Liwa adalah al-‘alam (bendera) yang berukuran besar. Jadi, liwa adalah bendera Negara. Sedangkan rayah berbeda dengan al-‘alam. Rayah adalah bendera yang berukuran lebih kecil, yang diserahkan oleh khalifah atau wakilnya kepada pemimpin perang, serta komandan-komandan pasukan Islam lainnya. Rayah merupakan tanda yang menunjukan bahwa orang yang membawanya adalah pemimpin perang (2).

Liwa, (bendera negara) berwarna putih, sedangkan rayah (panji-panji perang) berwarna hitam. Banyak riwayat (hadist) warna liwa dan rayah, diantaranya :

Rayahnya (panji peperangan) Rasul SAW berwarna hitam, sedang benderanya (liwa-nya) berwarna putih (HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)

Meskipun terdapat juga hadist-hadist lain yang menggambarkan warna-warna lain untuk liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang), akan tetapi sebagian besar ahli hadits meriwayatkan warna liwa dengan warna putih, dan rayah dengan warna hitam.

Tidak terdapat keterangan (teks nash) yang menjelaskan ukuran bendera dan panji-panji Islam di masa Rasulullah SAW, tetapi terdapat keterangan tentang bentuknya, yaitu persegi empat.

Panji Rasulullah saw berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol (HR. Tirmidzi)

Al-Kittani (3) mengetengahkan sebuah hadist yang menyebutkan :

Rasulullah saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta.

Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih. Hal ini dijelaskan oleh Al-Kittani (4), yang berkata bahwa hadist-hadist tersebut (yang menjelaskan tentang tulisan pada liwa dan rayah) terdapat di dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas. Imam Thabrani meriwayatkannya melalui jalur Buraidah al-Aslami, sedangkan Ibnu ‘Adi melalui jalur Abu Hurairah. Begitu juga Hadist-hadist yang menunjukan adanya lafadz Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah , pada bendera dan panji-panji perang, terdapat pada kitab Fathul Bari (5).

Berdasarkan paparan tersebut diatas, bendera Islam (liwa) di masa Rasulullah saw adalah berwarna putih, berbentuk segi empat dan di dalamnya terdapat tulisan Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah dengan warna hitam. Dan panji-panji perang (rayah) di masa Rasulullah saw berwarna dasar hitam, berbentuk persegi empat, dengan tulisan di dalamnya Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah berwarna putih.

Rabu, 23 Juli 2014

What the fuck
Welcome lurd